Kamis, 12 Januari 2012

Makalah Terapi Realitas


TERAPI REALITAS

Bab I. Pendahuluan
1.1  Latar Belakang Masalah
        Pada dewasa ini, banyak sekali pendekatan-pendekatan terapi yang dipelajari oleh konselor. Pendekatan-pendekatan tersebut antara lain : Pendekatan Psikoanalitik, Pendekatan Eksistensial-Humanistik, Pendekatan Client-Centered, Terapi Gestalt, Terapi Tingkah Laku, Terapi Rasional-Emotif, Terapi Realitas, dan lain-lain. Diantara berbagai pendekatan-pendekatan dan terapi tersebut, pendekatan dengan Terapi Realitas menunjukkan perbedaan yang besar dengan sebagian besar pendekatan konseling dan psikoterapi yang ada. Terapi Realitas juga telah meraih popularitas di kalangan konselor sekolah, para guru dan pimpinan sekolah dasar dan sekolah menengah, dan para pekerja rehabilitasi. Selain itu, Terapi Realitas menyajikan banyak masalah dasar dalam konseling yang menjadi dasar pernyataan-pernyataan seperti: Apa kenyataan itu? Haruskah  terapis mengajar pasiennya? Apa yang harus diajarkan? Dan sebagainya. Sistem Terapi Realitas difokuskan pada tingkah laku sekarang. Oleh karena itu, seorang konselor maupun calon konselor wajib mempelajari Terapi Realitas.

1.2  Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah yaitu :
1.      Bagaimana pandangan Terapi Realitas terhadap sifat manusia?
2.      Apa sajakah teknik-teknik yang digunakan dalam Terapi Realitas?

1.3  Tujuan Penulisan Makalah
1.      Untuk memenuhi kewajiban dalam mata kuliah Teori dan Teknik Konseling
2.      Untuk mengetahui pandangan Terapi Realitas terhadap sifat manusia
3.      Untuk mengetahui teknik-teknik yang digunakan dalam Terapi Realitas


Bab II. Pembahasan
2.1    Dasar Teori
2.1.1 Pengertian Terapi Realitas
        Terapi Realitas adalah suatu sistem yang difokuskan pada tingkah laku sekarang. Terapis berfungsi sebagai guru dan model serta mengonfrontasikan klien dengan cara-cara yang bisa membantu klien menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Inti terapi realitas adalah penerimaan tanggung jawab pribadi yang dipersamakan dengan kesehatan mental. Terapi Realitas, yang menguraikan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedur yang dirancang untuk membantu orang-orang dalam mencapai suatu “identitas keberhasilan”, dapat diterapkan pada psikoterapi, konseling, pengajaran, kerja kelompok, konseling perkawinan, pengelolaan lembaga, dan perkembangan masyarakat.
        Terapi Realitas adalah suatu bentuk modifikasi tingkah laku karena dalam penerapan-penerapan institusionalnya, merupakan tipe pengkondisian  operan yang tidak ketat. Glasser mengembangkan terapi realitas dan meraih popularitasnya karena berhasil menerjemahkan sejumlah konsep modifikasi tingkah laku ke dalam model praktek yang relatif sederhana dan tidak berbelit-belit.



2.1.2 Ciri – Ciri Terapi Realitas
Sekurang – kurangnya ada delapan ciri yang menentukan terapi realitas sebagai berikut :
1.    Terapi realitas menolak tentang penyakit mental. Ia berasumsi bahwa bentuk-bentuk gangguan tingkah laku yang spesifik adalah akibat dari ketidak bertanggung jawaban.
              Pendekatan ini tidak berurusan dengan diagnosis-diagnosis psikologis. Ia mempersamakan gangguan mental dengan tingkah laku yang tidak bertanggung jawab dan mempersamakan kesehatan mental dengan tingkah laku yang bertanggung jawab.
2.    Terapi realitas berfokus pada tingkah laku sekarang alih-alih pada perasaan- perasaan dan sikaf-sikaf. Meskipun tidak menganggap perasaan-perasaan dan sikap-sikap itu tidak penting, tetapi realitas menekankan kesadaran atas yingkah laku sekarang. Terapis realitas juga tidak bergantung pada pemahaman untuk menubah sikap-sikap tetapi menekankan bahwa perubahan sikap mengikuti perubahan tingkah laku.

3.    Terapis realitas berfokus pada saat sekarang, bukan pada masa lampau. Karena masa lampau seseorang telah tetap dan tidak bisa diubah, maka yang bisa diubah hanyalah saat sekarang dan masa yang akan datang. Terapis terbuka untuk mengekplorasi segenap aspek dari kehidupan klien sekarang, mencakup harapan-harapan, ketakutan-ketakutan, dan nilai-nilainya. Terapi menekankan kekuatan-kekuatan, potensi-potensi, keberhasilan-kebrhasilan, dan kualitas-kualitas positif dari klien dan tidak hanya meperhatikan kemalangan dan gejala-gejalanya. Glasser (1965, hlm.31) berpendapat bahwa klien dipandang sebagai “ pribadi dengan potensi yang kuat, bukan hanya sebagai pasien yang memiliki masalah-masalah”.

4.    Terapi realitas menekankan pertinbangan-pertimbangan nilai. Terapi realitas menempatkan pokok kepentingannya pada peran klien dalam menilai kualitas tingkah lakunya sendiri dalam menentukan apa yang membantu kegagalan yang dialaminya. Terapi ini beranggapan bahwa perubahan mustahil terjadi tanpa melihat pada tingkah laku dan membuat beberapa ketentuan mengenai sifat-sifat konstruktif dan destruktifnya. Jika para klien menjadi sadar bahwa mereka tidak akan memperoleh apa yang merek inginkan dan bahwa tingkah laku mereka merusak diri, maka ada kemungkinan yang nyata untuk terjadinya perubahan positif, semata-mata karena mereka menetapkan bahwa alternatif-alternatif bisa lebih baik daripada gaya mereka sekarang yang tidak realistis.

5.    Terapi realitas tidak menekankan transferensi. Ia tidak memandang konsep tradisional tentang transferensi sebagai hal yang penting. Ia memandang transferensi sebagai suatu cara bagi terapis untuk tetap bersembunyi sebagai pribadi. Terapi realitas mengimbau agar para terapis menempuh cara beradanya yang sejati, yakni bahwa mereka menjadi diri sendiri, tidak memainkan peran sebagai ayah atau ibu klien. Glassier (1965) menyatakan bahwa para klien tidak mencari suatu pengulangan keterlibatan di masa lampau yang tidak berhasil, tetapi mencari suatu keterlibatan manusiawi yang memuaskan dengan orang lain dalam keberadaan mereka sekarang. Terapis bisa menjadi orang yang membantu para klien dalam memeuhi kebutuhan-kebutuhan mereka sekarang dengan membangun suatu hubungan yang personal dan tulus.

6.    Terapi realitas menekankan aspek-aspek kesadaran, bukan aspek-aspek ketaksadaran. Teori psikoanalitik, yang berasumsi bahwa pemahaman dan kesadaran atas proses-proses ketaksadaran sebagai suatu prasyarat bagi perubahan kepribadian, menekankan pengungkapan konflik-konflik tak sadar melalui teknik-teknik seperti analisis transferensi, analisis mimpi, asosiasi-asosiasi bebas, dan analisis resistensi. Sebaliknya, terapi realitas menekankan kekeliruan yang dilakukan oleh klien, bagaimana tingkah laku klien sekarang hingga dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, dan bagaimana dia bisa terlibat dalam suatu rencana bagi tingkah laku yang berhasil yang berlandaskan tingkah laku yang bertanggung jawab dan realistis.

7.    Terapi realitas menhapus hukuman. Glasser mengingatkan bahwa pemberian hukuman guna mengubah tingkah laku tidak efektif dan bahwa hukuman untuk kegagalan melaksanakan rencana-rencana mengakibatkan perkuatan identitas kegagalan pada klien dan perusakan hubungan terapiutik. Dalam bukunya yang berjudul Schools without Failure, Glasser (1969, hlm. 7 ) mengeksplorasi secara rinci masalah kegagalan sebagai suatu cara menghukum para siswa dalam situasi sekolah. Ia menyatakan bahwa “ masalah utama disekolah-sekolah adalah masalah kegagalan. Ia mengimbau pembentukan suatu sistem pendidikan yang berakar pada suatu filsafat pendidikan yang memungkinkan pengalaman belajar yang berhasil. Ia meminta agar para pendidik “ memeriksa kekurangan-kekurangan yang ada pada pendidikan itu sendiri yang mengakibatkan kegagalan sekolah, kemudian pembentukan suatu program yang akan mengoreksinya” (Glasser, 1969, hlm. 11).

8.    Terapi realitas menekankan tanggng jawab, yang oleh Glasser(1965, hlm 13) didefinisikan sebagai “kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuha sendiri dan melakukannya dengan cara tidak mengurangi kemampuan orang lain dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka”. Belajar tanggung jawab adalah proses seumur hidup. Meskipun kita semua memiliki kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta kebutuhan untuk memiliki rasa berguna, kita tidak memiliki kemampuan bawaan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu. Glasser (hlm 10) menyatakan bahwa “kita perlu belajar untuk mengoreksi diri apabila kita membuat salah dan membanggakan diri apabila kita berbuat benar”. Untuk memperbaiki tingkah laku kita apabila berada dibawah standar tengah kita perlu mengevaluasi tingkah laku kita itu. Oleh karenanya, bagian yang esensial dari terapi realitas mencakup moral standar-standar, pertimbangan-pertimbangan nilai, serta benar dan salahnya tingkah laku karena semuanya itu berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan akan rasa berguna. Menurut Glasser, orang yang bertanggung jawab melakukan apa-apa yang memberikan kepada dirinya perasaan diri berguna dan perasaan bahwa dirinya berguna bagi orang.

            Glasser (1965) menyatakan bahwa mengajarkan tanggung jawab adalah konsep inti dalam terapi realitas. Jika kebanyakan hewan didorong oleh naluri, manusia mengembangkan kemampuan untuk belajar dan mengajarkan tanggung jawab. Oleh karenanya, terapi realitas menekankan fungsi terapis sebagai pengajar. Terapis mengajari para klien cara-cara yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dengan mengeksplorasi keistimewaan-keistimewaan dari kehidupan sehari-harinya dan kemudian membuat pernyataan-pernyataan direktif dan saran-saran mengenai cara-cara memecahkan masalah yang lebih efektif. Terapi menjadi suatu pendidikan khusus di mana rencana-rencana dibuat serta alat-alat yang realistik dan bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pribadi diuji.


2.1.3 Proses terapiutik
2.1.3.1 Tujuan-tujuan terapiutik
              Tujuan umum terapi realitas adalah membantu seseorang untuk mencapai otonomi. Otonomi adalah kematangan yang diperlukan bagi kemampuan seseorang untuk mengganti dukungan lingkungan dengan dukungan internal. Terapi realitas membantu orang-orang dalam menentukan dan memperjelas tujuan- tujuan mereka. Terapis membantu klien menemukan alternative-alternatif dalam mencapai tujuan-tujuan, tetapi klien sendiri yang menetapkan tujuan –tujuan terapi. Glasser dan Zunin(1973) sepakat bahwa terapis harus memiliki tujuan-tujuan tertentu bagi klien dalam pikirannya. Mereka menekankan bahwa criteria psikoterapi yang berhasil sangat bergantung pada tujuan-tujuan yang ditentukan oleh klien. Meskipun tidak ada criteria yang kaku yang pencapaiannya menandai selesainya terapi, criteria umum mengenai pencapaian tingkah laku yang bertanggung jawab dan pemenuhan tujuan-tujuan klien menunjukan bahwa klien mampu melaksanakan rencananya secara mandiri dan tidak perlu lagi diberi treatment. Tugas dasar terapis adalah melibatkan diri dengan klien dan kemudian membuatnya menghadapi kenyataan. Glasser (1965) merasa bahwa, ketika terapis menghadapi para klien, dia memaksa mereka itu untuk memutuskan apakah mereka akan atau tidak akan menempuh “jalan yang bertanggung jawab”. Tugas terapis adalah bertindak sebagai pembimbing hyang membantu klien agar bisa menilai tingkah lakunya sendiri secra realistis. Glasser (1972) yang menyatakan bahwa prinsip evaluasi tingkah lakunya telah sering disalah artikan, menyangkal peran sebagai moralis. Terapis realistis berasumsi bahwa klien bisa menciptakan kebahagiannya sendiri dan bahwa kunci untuk menemukan kebahagiaan adalah penerimaan tanggung jawab. Oleh karena itu terapis tidak menerima pengerlakan atau pengabaian kenyataan, dan tidak pula menerima tindakan klien menyalahkan apapun atau siapapun diluar dirinya atas ketidakbahagiaan pada saat sekarang. Tindakan yang demikian akan melibatkan klien dalam “kenikmatan psikiatrik” yang akan segera hilang dan mengakibatkan penyesalan. Fungsi penting lainnya dari terapis realistis adalah memasang batas, mencakup batas-batas dalam situasi terapiutik dan batas-batas yang ditempatkan oleh kehidupan oleh seseorang. Glasser dan Zunin (1973) menunjuk penyelenggaraan kontrak sebagai suatu tipe pemasangan batas. Kontrak-kontrak ,yang sering menjadi bagian dari proses terapi, bisa mencakup laporan klien mengenai keberhasilan maupun kegagalannya dalam pekerjaan diluar situasi terapi. Acap kali suatu kontrak menetapkan suatu batas yang spesifik bagi lamanya terapi. Pada akhir waktu , terapi bisa diakhiri dank lien diperbolehkan menjaga dirinya sendiri. Sebagian klien berfungsi lebih efektif  apabila mereka menyadari bahwa banyaknya pertemuan terapi dibatasi sampai jumlah tertentu. Selain fungsi-fungsi dan tugas tersebut kemampuan terapis untuk terlibat denga klien serta untuk melibatkan klien dalam proses terapiutik dianggap paling utama. Fungsi ini serong kali sulit, terutama apabila klien tidak menginginkan konseling atau apabila dia meminta”tolong” sekedar coba-coba. Glasser (1965) menunjukan bahwa cara terjadinya keterlibatan antara dua orang yang asing banyak berurusan dengan kualitas yang diperlukan pada terapis. Menurut glasser, beberap atribut atau kualitas pribadi itu mencakup kemampuan dan kesediaan terapis untuk menuntut, namun peka ; memenuhi kebutuhan-kebutuhannya sendiri dalam kenyataan; secara terbuka berbagi perjuangannya sendiri; bersikap pribadi dan tidak memelihara sikap menjauhkan diri; membiarkan nilai-nilainya sendiri ditantang oleh klien; tidak menerima dalih bagi penghindaran tindakan yang bertanggung jawab; menunjukan keberanian  dengan cara sinambung menghadapi klien, tanpa mengindahkan penentangan dari para klien apabila mereka tidak hidup secara raelistis; memahami dan merasakan simpati terhadap klien; dan membangun keterlibatan yang tulus dengan klien.


2.1.3.2 Pengalaman Klien dalam Terapi
              Para klien dalam terapi realitas bukanlah orang-orang yang telah belajar menjalani kehidupan secara bertanggung jawab, melainkan orang-orang yang termasuk tidak bertanggung jawab. Meskipun tingkah lakunya tidak layak, tidak realistis, dan tidak bertanggung jawab, tingkah laku para klien itu masih merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar mereka akan cinta dan rasa berguna. Perhatian terapeutik diberikan kepada orang yang belum belajar atau kehilangan kemampuan untuk menjalani kehidupan yang bertanggung jawab.
              Para klien diharapkan berfokus kepada tingkah laku mereka sekarang alih-alih kepada perasaan-perasaan dan sikap-sikap mereka. Terapis menantang para klien untuk memandang secara kritis apa yang mereka perbuat dengan kehidupan mereka dan kemudian membuat pertimbangan nilai yang menyangkut keefektifan tingkah laku mereka dalam mencapai tujuan. Karena para klien bisa mengendalikan tingkah lakunya lebih mudah daripada mengendalikan perasaan dan pikirannya. Jika seorang klien mengeluh bahwa dirinya merasa cemas, terapis bisa bertanya kepada klien, “ Apa yang anda lakukan untuk membuat diri sendiri cemas?”. Fokusnya bukanlah perasaan cemas, melainkan membantu klien agar memperoleh kesadaran atas apa yang dilakukannya sekarang yang menjadikan dirinya cemas.
              Setelah para klien membuat penilaian tertentu tentang tingkah lakunya sendiri serta memutuskan bahwa mereka ingin berubah, mereka diharapkan membuat rencana-rencana yang spesifik guna mengubah tingkah laku yang gagal menjadi tingkah laku yang berhasil. Para klien harus membuat suatu komitmen untuk melaksanakan rencana-rencana ini. Mereka tidak bisa menghindari komitmen dengan mempersalahkan, menerangkan, atau memberikan dalih. Mereka harus terlibat aktif dalam pelaksanaan kontrak-kontrak terapi mereka sendiri secara bertanggung jawab apabila ingin mencapai kemajuan.


2.1.3.3 Hubungan antara Terapis dan Klien
Sebelum terjadi terapi yang efektif, keterlibatan antara terapis dengan klien harus berkembang. Para klien harus mengetahui bahwa orang yang membantu mereka, yakni terapis, menaruh perhatian yang cukup kepada mereka, menerima dan membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka di dunia nyata. Di bawah ini merupakan tinjuan ringkas atas prinsip-prinsip yang spesifik yang menyajikan kerangka bagi proses belajar yang terjadi sebagai hasil dari hubungan antara terapis dan klien atau guru dan siswa, yang dikemukakan oleh Glasser (1965, 1969) serta Glasser dan Zunin (1973).
1.    Terapi realitas berlandaskan hubungan atau keterlibatan pribadi antara terapis dan klien. Terapis, dengan kehangatan, pengertian, penerimaan, dan kepecayaannya atas kesanggupan klien untuk mengembangkan suatu identitas keberhasilan, harus mengkomunikasikan bahwa dia menaruh perhatian. Melalui keterlibatan pribadi dengan terapis, klien belajar bahwa lebih banyak hal dalam hidup ini daripada hanya memusatkan perhatian kepada kegagalan, kesusahan, dan tingkah laku yang tidak bertanggung jawab. Terapis mengembangkan hubungan yang sangat seraya menghidari hubungan yang menjurus kepada percintaan. Menjadi tugas terapis untuk menentukan situasi terapiutik sehingga klien mamahami sifat, maksud, dan arah hubungan yang terjalin. Keterlibatan yang diterapkan di sekolah sangat vital bagi seorang anak untuk mencapai identitas keberhasilan, sejalan dengan imbauannya bagi pembentukan hubungan pribadi antara terapis dan klien, Glasser memandang bahwa keterlibatan sangan penting antara guru dan siswa.

2.    Perencanaan adalah hal yang esensial dalam terapis realitas. Situasi terapiutik tidak terbatas pada diskusi-diskusi antara terapis dan klien. Mereka harus membentuk rencana-rencana, jika sudah terbentuk harus dijalankan ; dalam terapi realitas tindakan adalah bagian yang esensial. Kerja yang paling penting dalam proses terapiutik adalah membantu klien agar mengenali cara-cara spesifik untuk mengubah tingkah laku kegagalan menjadi tingkah laku keberhasilan. Rencana-rencana bukanlah hal yang mutlak, yang terutama merupakan cara-cara alternatif bagi klien untuk memecahkan masalah dan untuk memperluas pengalaman hidup yang penuh keberhasilan.

3.    Komitmen adalah kunci utama terapi realitas. Setelah para klien membuat pertimbangan nilai mengenai tingkah laku mereka sendiri dan memutuskan rencana tindakan, terapis membantu mereka dalam membuat suatu komitmen untuk melaksanakan rencana-rencana itu dalam kehidupan mereka. Pernyataan dan rencana tidak ada artinya sebelum ada keputusan untuk melaksanakannya. Dengan menjalani rencana-rencana yang dibuat para klien diharapkan bisa memperoleh rasa berguna.

4.    Terapi realitas tidak menerima dalih. Tidak semua komitmen klien bisa terlaksana, ada rencana-rencanayang bisa gagal. Tetapi, jika rencana-rencana gagal terapi realitas tidak menerima dalih. Ia tidak tertarik untuk mendengar alasan-alasan, penyalahan, dan keterangan-keterangan klien tentang mengapa rencananya gagal. Terapis harus berfokus pada apa maksud klien menyelesaikan sesuatu yag diputuskan untuk dilaksanakan alih-alih pada mengapa.


2.2 Pandangan tentang Sifat Manusia
Terapi realiatas berlandaskan premis bahwa ada suatu kebutuhan psikologis tunggal yang hadir sepanjang hidup, yaitu kebutuhan identitas yang mencakup suatu kebutuhan untuk merasakan keunikan, keterpisahan, dan ketersendirian. Kebutuhan akan identitas menyebabkan dinamika –  dinamika tingkah laku, dipandang sebagai universal pada semua kebudayaan. Menurut terapi realitas akan sangat berguna apabila menganggap identitas dalam pengertian” lawan” identitas kegagalan”. Dalam pembentukan identitas, masing-masing dari kita mengembangkan keterlibatan-keterlibatan dengan orang lain dan dengan bayangan diri, yang dengannya kita merasa relatif berhasil atau tidak berhasil. Orang lain memainkan peranan yang berarti dalam membantu kita menjelaskan dan memahami identitas kita sendiri. Cinta dan penerimaan berkaitan langsung dengan pembentukan identitas. Menurut Glasser (1965. Hlm 9), basis dari terapi relitas adalah membantu para klien dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar psikologisnya, yang mencakup “ kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta kebutuhan untuk merasakan bahwa kita berguna baik bagi kita sendiri maupun bagi orang lain”.

Pandangan tentang manusia mencakup pernyataan bahwa suatu “ kekuatan pertumbuhan “ mendorong kita untuk berusaha mencapai suatu identitas keberhasilan. Sebagai mana dinyatakan oleh Glasser dan Zunin (1973, hlm 297), “Kami percaya bahwa masing-masing individu memiliki suatu kekuatan kearah kesehatan atau pertumbuhan. Pada dasarnya, orang-orang ingin puas hati dan menikmati suatu identitas keberhasilan, menunjukkan tingkah laku yang bertanggung jawab dan memiliki hubungan interpersonal yang penuh makna”. Penderitaan pribadi bisa diubah hanya dengan perubahan identitas. Pandangan terapi realitas menyatakan bahwa, karena individu-individu bisa mengubah cara hidup, perasaan, dan tingkah lakunya, maka merekapun bisa mengubah identitasnya. Perubahan identitas bergantung pada perubahan tingkah laku.

Maka jelaslah bahwa terapi realitas tidak berpijak pada filsafat deterministik tentang manusia, tetapi dibangun diatas asumsi bahwa manusia adalah agen yang menentukan dirinya sendiri. Prinsip ini menyiratkan bahwa masing-masing orang memikul tanggung jawab untuk menerima konsekuensi- konsekuensi dari tingkah lakunya sendiri. Tampaknya orang menjadi apa yang ditetapkannya.

2.3 Teknik-Teknik dan Prosedur-Prosedur Terapiutik
        Terapi realitas bisa ditandai sebagai terapi yang aktif secara verbal. Dalam membantu klien dalam menciptakan identitas keberhasilan, terapis bisa menggunakan beberapa teknik sebagai berikut :
1.   Terlibat dalam permainan peran dengan klien;
2.   Menggunakan humor;
3.   Mengonfrontasikan klien dan menolak dalih apapun;
4.    Membantu klien dalam merumuskan rencana-rencana yang spesifik bagi tindakan;
5.   Bertindak sebagai model dan guru;
6.   Memasang batas-batas dan menyusun situasi terapi;
7.    Menggunakan “terapi kejutan verbal” atau sarkasme yang layak untuk mengonfrontasikan klien dengan tingkah lakunya yang tidak realistis; dan
8.    Melibatkan diri dengan klien dalam upayanya mencari kehidupan yang lebih efektif.
              Terapi realitas tidak memasukkan sejumlah teknik yang secara umum diterima oleh pendekatan-pendekatan terapi lain. Pempraktek terapi realitas berusaha membangun kerja sama dengan para klien untuk membantu mereka dalam mencapai tujuan-tujuannya. Teknik-teknik diagnostik tidak menjadi bagian dari terapi realitas. Teknik-teknik lain yang tidak digunakan adalah penafsiran, pemahaman, wawancara-wawancara non direktif, sikap diam yang berkepanjangan, asosiasi bebas, analisis transferensi dan resistensi, dan analisis mimpi.

2.3.1 Penerapan pada Situasi-situasi konseling
              Glasser dan Zunin (1973, hlm. 307) percaya bahwa teknik-teknik terapi realitas bisa diterapkan pada lingkup masalah behavioral dan emosional yang luas. Mereka menyatakan bahwa prosedur-prosedur terapi realitas telah digunakan dengan berhasil pada penanganan “masalah-masalah individu yang spesifik seperti masalah kecemasan, maladjustment, konflik-konflik perkawinan, perversi, dan psikosis.
              Suatu area dimana terapi realitas telah digunakan secara ekstensif dengan keberhasilan yang besar adalah penanganan para pelajar pelanggar hukum. Hasil kerja Glasser di  Ventura School for Girls menunjukkan bahwa prosedur-prosedur terapi realitas dalam programnya telah mengurangi angka residivisme secara berarti (Glasser dan Zunin, 1973).
              Terapi realitas cocok digunakan dalam terapi individual, kelompo dan konseling perkawinan. Terapi kelompok adalah wahana yang efektif dalam penerapan prosedur-prosedur terapi realitas. Proses kelompok bisa menjadi agen yang kuat untuk membantu klien dalam melaksanakan rencana-rencana dan komitmen-komitmennya. Menurut Glasser dan Zunin (1973), konseling perkawinan atau terapi penyatuan perkawinan sering dilaksanakan oleh terapis realitas. Pada permulaan terapi perlu ditetapkan apakah pasangan (a) memutuskan untuk mengakhiri ikatan perkawinan, (b) berkeinginan mengeksplorasi pro dan kontra mengenai kemungkinan meneruskan hubungan perkawinan, atau (c) secara pasti menginginkan diteruskannya hubungan perkawinan tetapi meminta bantuan terapis untuk memperbaiki hubungannya itu. Terapis diharapkan aktif dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan kepada pemahaman atas dinamika-dinamika umum perkawinan dan gaya berelasi yang digunakan oleh pasangan terhadap satu sama lain.

2.3.2 Penerapan di Sekolah
              Terapi realitas memiliki implikasi-implikasi langsung bagi situasi-situasi sekolah. Glasser untuk pertama kalinya menaruh perhatian pada masalah-masalah belajar dan tingkah laku anak ketika ia menangani anak-anak perempuan di Ventura School for Girls dari California Youth Autority. Ia menemukan sejarah yang hampir universal dari kegagalan sekolah di kalangan anak-anak perempuan tersebut. Glasser (1969) percaya bahwa pendidika bisa menjadi kunci bagi pergaulan manusia yang efektif. Dalam bukunya School without Failure, ia mengemukakan sebuah program untuk menghapus kegagalan, menitikberatkan pemikiran ketimbang kerja mengingat, memperkenalkan relevansi ke dalam kurikulum, mengganti hukuman menjadi disiplin, menciptakan suatu lingkungan belajar di mana anak-anak bisa memaksimalkan pengalaman-pengalaman yang berhasil yang akan menuju pada identitas keberhasilan, menciptakan motivasi dan keterlibatan, membantu para siswa dalam mengembangkan tingkah laku yang bertanggung jawab, dan membentuk cara-cara untuk melibatkan para orang tua dan masyarakat dengan sekolah.




























Bab III. Penutup

              Terapi realitas tampaknya sangat cocok bagi intervensi-intervensi singkat dalam situasi-situasi konseling krisis dan bagi penanganan para remaja dan orang-orang dewasa penghuni lembaga-lembaga untuk tingkah laku kriminal. Secara realistis, penggunaan psikoterapi jangka panjang yang mengeksprolasi dinamika-dinamika tak sadar dan masa lampau seseorang pada situasi-situasi dan tipe orang-orang tersebut diatas sangan terbatas. Glasser mengembangkan pendekatannya karena keyakinannya bahwa prosedur-prosedur psikonalitik tidak berhasil bagi populasi itu. Keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari terapi realitas tampaknya adalah jangka waktunya yang relatif pendek dan berurusan dengan masalah-masalah tingkah laku sadar.
                        Akhirnya, pandangan Glasser tentang penyakit mental “ketidakbertanggungjawaban” adalah pandangan yang kontrovesial. Ia tidak mw mengakui bahwa banyak pasien mental adalah orang-orang yang sangat bertanggung jawab sebelum mulai menunjukkan gejala-gejala mereka.
                       





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar